Kami akan membawakan
sebuah legenda fenomenal turun menurun yang telah diceritakan selama 7 turunan
... eh, maaf saya salah baca naskah.
Kami akan membawakan
sebuah drama berjudul “100 SELENDANG SUTRA” dengan pemerannya :
Ciptaning Asih
Kusumaningrum sebagai Nyonya Brenda
Ega Dias Fitriani
sebagai Ratu Andinita
Eka Yuliana Sari
sebagai Arumsari
Uyun Khusuma Dewi
sebagai Nyi Ramya
Dan saya sendiri,
Farah Andri Nabila Rizki sebagai prolog
Arumsari tinggal bersama ibunya. Mereka
bekerja memintal selendang untuk dijual ke tengkulak di pasar. Suatu hari,
datang seorang wanita bernama Nyonya Brenda. Ia memesan 100 selendang sutera
pada ibu Arumsari, Nyi Ramya.
Nyonya Brenda : Aku
memesan 100 selendang sutra untuk istana!
Nyi Ramya : Hahaha, wani piro? Nyonya harus
membayar uang muka separuhnya. Karena kami harus menyiapkan benang yang banyak
pula.
Nyonya Brenda : Ini pesanan istana. Apa harus membayar uang
muka juga? Pokoknya dalam waktu sebulan, kau harus menyelesaikannya! Ingat selendangnya
harus dari sutra berlainan motif. Kami akan membayarnya nanti!
Arumsari : Selendang sutra berlainan motif?
Dalam waktu 1 bulan? Hmm bisa gak yaa ..
Nyonya Brenda : Gitu aja gak bisa, gitu aja gak bisa, gitu
aja gak bisa (ala OVJ). Huh sudahlah kerjakan saja! Kami akan membayarnya nanti! Minta
pin nya!
Arumsari : Hah? Pin apa nyonya? Pin BB?
Nyonya Brenda : Pin ATM doong, pembayarannya akan saya
transfer!
Arumsari : Kalo mau transfer, cukup no
rekening, nyonya, bukan pin -_-
Nyonya Brenda : Terserah apa katamu!
Nyi Ramya : Hmm, baiklah nyonya kami terima
pesanan anda. No. rek nya 021 791 876 76 (nada ala OVJ)
Nyonya Brenda : Hahaha, bagus! Saya permisi
Arumsari melihat ibunya kebingungan. Ya,
selama ini mereka tidak pernah memintal selendang sebanyak itu. Karena untuk
memintal selendang yang banyak memerlukan modal yang besar.
Nyim Ramya : Piye
iki ndok ndok .. mumet aku. Lagi bokek nih
Arumsari :
It’s not good .. Bagaimana kalau kita meminjam uang pada rentenir?
Nyim Ramya :
Baiklah, itu jalan satu satunya
Dalam kebingungannya, akhirnya Nyi Ramya & Arumsari memutuskan
untuk meminjam uang pada rentenir. Setelah mendapatkan uang, uang tersebut
langsung dibelikan benang pintal. Nyi Ramya dibantu Arumsari pun bekerja siang
malam untuk menyelesaikan pesanan.
1 bulan kemudian ...
Nyi Ramya :
Nyonya Brenda, dimana kaaauu??!!
Arumsari :
Dihatimuu. Ya di rumahnya dong buu
Nyi Ramya :
Ini sudah 1 bulan. Pesanan sudah selesai, tapi Ia tak kunjung datang!
Kurang asem!
Kurang asem!
Arumsari :
Kurang ajar -_-
Nyi Ramya :
Kurang ajar itu gak sopan tau
Arumsari : oh iya maaf. Udah deh bu, kita
samperin aja yuk ke rumah Nyonya Brenda. Kunci mobil mana kunci mobil?
(kebingungan)
Nyi Ramya :
Heh, sejak kapan kita punya mobil hah? -_-
Arumsari :
Bercanda loh buu :D aku kan orangnya humoris :D
Dirumah Nyonya Brenda ...
Nyi Ramya : Ini 100 selendang sutra pesanan
istana. Kau pun bahkan belum mentransfer uangnya Nyonya
Nyonya Brenda : Seratus selendang untuk istana? Kapan aku
memesannya?! Aku tidak pernah memesan apapun!
Nyi Ramya : Tapi waktu itu nyonya sendiri yang
datang ke rumah & mengatakannya.
Nyonya Brenda : Mana buktinya? Kalau orang memesan harus
membayar uang muka. Rasanya aku tidak pernah membayar uang muka padamu. Kamu
juga tidak punya kwitansinya kan? Sudahlah, pulang sana, pergi dari sini!
Dengan sedih, Nyi Ramya & Arumsari pun
pergi dari rumah Nyonya Brenda
Nyi Ramya : Teganya Nyonya Brenda menipu kita,
masyarakat ..
Arumsari : Masya Allah bu -_-
Nyi Ramya : Iya itu maksud ibu. Nah, sekarang
kita harus menjual selendang ini sampai habis. Agar hasilnya bisa kita gunakan
untuk membayar hutang.
Akhirnya Nyi Ramya & Arumsari menjual selendang mereka ke tengkulak
pasar, namun para tengkulak tak mau lagi menerima selendang buatan Nyi Ramya.
Rupanya Nyonya Brenda berbuat curang. Diam diam ia membuka pabrik selendang di
rumahnya. Karena selendang pabriknya kalah saing dengan buatan Nyi Ramya,
Nyonya Brenda sengaja membuat Nyi Ramya Bangkrut. Bahkan, Nyonya Brenda
menyogok para tengkulak di pasar agak tak membeli selendang Nyi Ramya.
Karena selendang
nya tidak laku di pasar, Nyi Ramya & Arumsari terpaksa menjualnya dari
rumah ke rumah. Dalam perjalanan, tiba tiba datang angin kencang &
menerbangkan selendang selendang Nyi Ramya.
Arumsari : eh eh, selendangnyaaa ..
Nyi Ramya : yaah, galau deh akuu :’(
Namun rupanya, Ratu Andinita menemukan salah
satu dari selendang selendang yang terbang
Ratu Andinita : Maaf, apakah kalian yang membuat
selendang ini? Jika benar, ikutlah aku ke istana
Nyi Ramya : eehh, iya ratu ..
Di istana ...
Ratu Andinita : Jadi, kalian yang membuat selendang
selendang indah ini? Aku akan membeli semuanya. Bahkan, aku akan mengangkat
kalian menjadi pemintal istana.
Arumsari : Alhamdulillah yah .. (ala Syahrini)
Nyi Ramya : Sesuatu (ala Syahrini). Hehe, maturnuwun ratu ..
Ratu Andinita : sami sami ..
Betapa bahagianya Nyi Ramya & Arumsari.
Begitulah, pekerjaan mereka tidak sia sia bahkan mereka menjadi pemintal
istana. Mereka pun lolos dari jeratan hutang. Bahkan, hingga mereka termashur
sebagai pemintal istana, Nyi Ramya & Arumsari pun tidak menyimpan dendam
sedikitpun pada Nyonya Brenda.
Amanat yang dapat kita ambil dari drama ini adalah, dibalik sebuah musibah pasti ada hikmahnya. Dan tidak seharusnya pula kita menyimpan dendam terhadap orang lain.
Amanat yang dapat kita ambil dari drama ini adalah, dibalik sebuah musibah pasti ada hikmahnya. Dan tidak seharusnya pula kita menyimpan dendam terhadap orang lain.
(Naskah drama ini dibuat berdasarkan Cerpen "100 Selendang Sutra" yang dimuat di majalah Bobo)

